Minggu, 22 November 2009

^_^ Cerpen !!! ^_^

-->
Nama : Meyke Liechandra
NIM : C11109130
Angkutan Umum dan Penumpangnya
Ini tugas Mata kuliah Bahasa Indonesia !!!! Silakan dibaca >>


Saya selalu menggunakan angkutan umum kota nomor 05 dari kampus menuju jalan Cendrawasih. Di suatu malam, saya berada di dalam angkutan kota hanya bertiga dengan seorang perempuan muda dan sopir. Di luar jendela angkutan umum yang buram dan penuh stiker murahan, titik - titik hujan mulai jatuh. Udara terasa dingin. Setelah duduk selama kurang lebih setengah jam di angkutan umum, saya menyadari sesuatu. Perempuan yang duduk di samping saya merupakan kernet angkutan umum tersebut. Usianya sekitar lima tahun di atas usia saya. Perempuan itu memiliki tubuh cukup kekar dan berwajah cantik.
"Cendrawasih ... Cendrawasih .... kosong ... kosong,” ujarnya parau, mencari penumpang.
”Sepi, Mbak ?” tanya saya. Perempuan itu kaget mendengar ada yang bertanya untuk dirinya. Ia menoleh malu – malu.
”Ini merupakan hal yang sudah biasa bila malam tiba,” jawabnya polos. ”Jalanan ramai jika ada acara – acara tertentu saja.”
”Apakah tidak merasa lemas berteriak seperti itu seharian ?”
”Saya telah terbiasa.”
Saya terkesan dengan penuturan tersebut. Angkutan umum pun memasuki jalan Cendrawasih. Serombongan perempuan pulang dari tempat kerja. Mereka memakai pakaian rapi dan make up yang membuat wajah mereka tampak makin kelelahan. Sepanjang perjalanan, mereka menceritakan hal - hal yang terjadi di seputar kehidupan pribadi mereka. Sulitnya mengurus anak tanpa pembantu, berhadapan dengan bos yang penuh tuntutan di kantor, dan gosip tentang teman kantor lainnya manjadi menu utama di angkutan umum saat itu juga. Saya mendengar cerita - cerita mereka dengan antusias. Di tengah percakapan, si kernet terus berteriak menjajakan kursi. Sesekali ia memaki jika ada motor yang menerobos jalan seenaknya atau mengomel pada angkutan umum lain yang berhenti mendadak sehingga sopir mesti mendadak menginjak pedal rem. Ia berbicara jauh dari masalah domestik yang sedang dibicarakan perempuan – perempuan kantoran. Ia memasuki wilayah lain dimana ia seperti dituntut untuk memainkan peran yang sama dengan laki - laki. Memaki dan berpacu dalam kecepatan kendaraan di jalanan terasa sudah biasa bagi dirinya. Saya berada di tengah - tengah mereka dan menarik kesimpulan pendek. Betapa menyenangkannya ketika kita bisa menikmati peran sosial kita. Menjadi apapun, perempuan macam apapun, semua adalah pilihan. Kita sendiri yang memutuskan apakah pilihan itu membuat kita bahagia. Saya pun merasa diri saya bahagia ketika saya melakukan apa yang saya inginkan dan sadar dengan setiap risiko dari pilihan saya.
Saya semakin dekat dengan rumah. Saya merogoh saku rok hitam dan menarik selembar uang seribu rupiah kusut. Saya menepuk pundak si kernet dan meletakkan uang tersebut di atas telapak tangan kirinya. Ia terkejut dan sesaat kemudian, matanya memancarkan sinar kebahagiaan. Saya tersenyum dan ia pun membalasnya dengan canggung.

0 comments: